SEJARAH SINGKAT KHALIFAH KE-12 TAREKAT KHIDIRIYYAH YUSUFIYYAH (Daeng serang)
NASKAH BACAAN MANAQIB
Riwayat Singkat Perjalanan Hidup Opu Daeng Serang (Andi Rahmat Abdullah)
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Al-ḥamdu lillāhi Rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah yang membolak-balikkan hati hamba-Nya dari lalai menuju ingat, dari gelap menuju cahaya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Pada malam yang penuh berkah ini, marilah kita simak manaqib sebagai bahan ‘ibrah, bukan untuk meninggikan seseorang, melainkan agar kita belajar bagaimana Allah menuntun seorang hamba dari jalan gelap menuju jalan-Nya.
Bacaan Manaqib
Ketahuilah oleh kalian sekalian, bahwa seorang hamba bernama Andi Rahmat Abdullah, yang dikenal di Sulawesi sebagai Andi Rahmat Daeng Serang, berasal dari garis keturunan besar Sulawesi. Dari pihak ayahnya, berketurunan Bugis dan beliau adalah putra Andi Abdullah M, keturunan Bone, berasal dari Cenrana, Desa Pallime’. Dari pihak ibu, darahnya bersambung kepada Gowa–Makassar. Namun seluruh nasab itu dirahasiakan sejak kecil berdasarkan wasiat leluhur, agar tidak menjadi hijab dalam perjalanan batin. Sehingga kelak sebelum kakeknya wafat barulah dibukakan.
Buyutnya, Petta Sima’, sejak usia muda telah diberi firasat yang tajam. Ucapannya tentang masa depan terbukti nyata dengan izin Allah. Dari garis inilah lahir Andi Sudik Daeng Sattu, seorang tokoh adat, tasawuf, dan kebatinan yang disegani, yang kelak menjadi kakek sekaligus guru ruhani bagi Andi Rahmat.
Ibunya, I Rosmawati, sejak kecil telah mengalami mati suri dan hidup kembali melalui nadzar dan tawassul. Dalam hidupnya ia menghadapi ujian berat: disiksa, dizalimi, disambar petir hingga koma, namun berulang kali diselamatkan oleh Allah. Semua ini menjadi tanda bahwa garis takdir yang mengalir pada keturunannya bukanlah garis yang ringan.
Hadirin sekalian,
Andi Rahmat lahir pada hari Ahad, 12 Oktober 1997. Sejak kecil hidupnya penuh perpisahan dan luka batin. Ayahnya menghilang, ibunya merantau, dan ia dibesarkan oleh kakek-neneknya. Namun yang jarang diketahui orang, sejak usia sangat dini—sekitar enam tahun, ketika masih kelas 1 SD—Rahmat sudah mulai mencari Tuhan. Di saat anak-anak seusianya bermain, ia sering termenung, bertanya dalam hatinya tentang siapa yang menciptakan hidup dan mati.
Pada usia kelas 4 SD, Rahmat mulai diajari ilmu makrifat secara langsung oleh kakeknya, Andi Sudik Daeng Sattu. Pada masa inilah, untuk pertama kalinya ia mengenal secara batin siapa yang disebut Allah Ta‘ala, bukan sekadar nama, tetapi sebagai realitas yang disaksikan oleh hati.
Pada suatu waktu, Andi Sudik berkata kepadanya:
“Nak, jalan menuju Tuhan itu bukan dengan angan-angan. Jalan itu hanya satu, yaitu melalui Hakikat Muhammad yang ada di balik pusarmu.”
Sejak saat itu, Rahmat mulai mengenal jalan batin dan rahasia diri. Dan pada tahun 2014, dengan izin Allah, ia mewarisi Tarekatul Muhammadiyah dari gurunya, Andi Sudik Daeng Sattu, sebagai amanah ruhani, bukan sebagai gelar atau kebanggaan.
Namun hadirin yang dimuliakan Allah,
Meski telah mengenal makrifat sejak kecil, hidup Rahmat tetap diuji. Setelah wafatnya kakek dan neneknya—dengan tanda-tanda yang mengherankan dan disaksikan banyak orang—ia jatuh dalam kegelapan. Ia meninggalkan sholat, mabuk-mabukan, berkelahi, dan hidup tanpa arah. Ilmu yang tinggi tidak dijaga dengan adab, sehingga ia terjatuh sebagaimana banyak orang sebelum dan sesudahnya.
Allah Maha Pengasih.
Pada awal tahun 2016, dalam keadaan lalai, terlintas di hatinya satu pertanyaan yang mengguncang:
“Bagaimana jika aku mati dalam keadaan seperti ini?”
Pertanyaan itu membawanya kembali ke masjid. Ia mengumandangkan adzan Subuh, menangis, bersujud, dan bertaubat dengan hati yang hancur. Dari titik inilah Allah membukakan kembali jalannya melalui dakwah dan khuruj fi sabilillah.
Dan sebagai bentuk penjagaan keseimbangan antara batin dan lahir, pada akhir tahun 2016, Andi Rahmat mondok untuk menuntut ilmu syariat di Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro, Magetan, Jawa Timur. Di sanalah ia menata kembali ilmunya, agar makrifat tidak berjalan tanpa syariat, dan agar cahaya batin dijaga oleh hukum dan adab.
Selepas itu semua pada akhir tahun 2023 sudah mulai persiapan untuk membuka amanah ilahi melalui gurunya dahulu untuk menyampaikan amanah tersebut dan mentalqin pada Tahun 2024 hingga selesai targetnya sebanyak 3.333 orang, Lalu kemudian kelak akan mengalami masa Uzlah yang panjang, Wallahu A'lam.
Hadirin sekalian,
Kisah ini bukan kisah kesaktian, bukan pula kisah penetapan maqam. Ini adalah kisah pencarian Tuhan sejak kanak-kanak, kejatuhan seorang hamba, lalu kebangkitan taubat. Karena sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Allah adalah orang yang paling merasa kecil di hadapan-Nya.
Penutup Doa
Ya Allah,
Jadikan kisah ini pelajaran bagi kami.
Jika ada kebaikan, itu dari-Mu.
Jika ada kekurangan, itu dari kelemahan kami.
Himpunkan kami bersama orang-orang yang Kau cintai,
yang berjalan lurus tanpa klaim,
yang taat lahir dan batin hingga akhir hayat.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Menarik sebagai bahan renungan dan pelajaran tentang manaqib beliau
BalasHapusAlhamdulillah.. hadir Puang.. ejun
BalasHapus