AWAL AGAMA MAKRIFAT, AKHIR AGAMA SYARI'ATULLAH
FASAL KE-5 : HUBUNGAN ANTARA MAKRIFAT DAN SYARI'AT
Para arif sepakat: awal agama itu makrifat, dan akhirnya adalah syariat. Bukan berarti syariat lebih rendah atau makrifat menghapus hukum, tapi ini soal urutan kesadaran manusia. Makrifat adalah kenal Allah di dalam hati, sedangkan syariat adalah aturan lahir untuk menjaga agar pengenalan itu tidak rusak oleh nafs dan khayalan.
Makrifat lebih dulu, seperti ruh sebelum jasad. Sebelum diperintah, manusia sudah membawa fitrah tauhid. Syariat lalu datang sebagai jalan dan pagar. Kalau mulai dari syariat tanpa makrifat, agama terasa berat dan kering. Kalau klaim makrifat tanpa syariat, orang akan tersesat oleh rasa dirinya sendiri.
Para nabi diutus bukan untuk mengenalkan Tuhan yang baru, tapi untuk menghidupkan kembali makrifat yang tertutup. Kalau makrifat hidup, syariat terasa ringan. Kalau makrifat mati, syariat terasa menekan. Beratnya agama bukan dari hukum, tapi dari hati yang gelap.
Dikatakan akhir agama adalah syariat karena puncak makrifat justru tampak dalam ketaatan lahir yang paling halus. Orang yang benar-benar kenal Allah tidak meninggalkan aturan, tapi makin rapi adabnya. Di awal jalan, syariat terasa beban. Di akhir jalan, syariat mengalir alami tanpa dipaksa.
Makrifat tanpa syariat melahirkan kekacauan. Syariat tanpa makrifat melahirkan kekakuan. Makrifat memberi arah, syariat memberi batas. Tanpa arah, batas jadi penjara. Tanpa batas, arah jadi khayalan.
Banyak penyimpangan lahir karena salah urut. Ada yang merasa sudah makrifat lalu bebas dari hukum. Ada yang berhenti di hukum dan menutup pintu batin. Padahal tujuan agama adalah hadirnya hati di hadapan Allah, dan syariat menjaga kehadiran itu sampai akhir hayat.
Dalam suluk, salik mulai taat syariat, lalu makrifat menyala, dan akhirnya syariat menjadi penjaga alami dari cahaya itu. Pada puncaknya, kehendak hamba selaras dengan perintah Tuhan.
Para nabi adalah contoh paling sempurna: makrifatnya paling dalam, syariatnya paling sempurna. Maka meremehkan syariat berarti tidak mengenal nabi, dan mematikan makrifat berarti tidak memahami tujuan agama.
Kesimpulannya: makrifat adalah asal, syariat adalah penjaga. Makrifat tanpa syariat seperti api tanpa pelita, syariat tanpa makrifat seperti pelita tanpa api. Agama hidup karena keduanya bersatu.
Komentar
Posting Komentar