HAKEKAT NUBUWWAH
KITAB DARUL FUTUHAT :
FASAL 1 - Tentang Hakikat Kenabian sebagai Insan Kāmil dan Cermin Tajallī Ilāhī
Ketahuilah, wahai penempuh jalan, bahwa kenabian pada hakikatnya bukan sekadar penyampaian hukum dan khabar, melainkan penyempurnaan wujud manusia sehingga ia layak menjadi tempat tajallī Ilahi secara paling jernih. Maka para nabi disebut oleh para arif sebagai insan kāmil, bukan karena tubuhnya, tetapi karena kesempurnaan penerimaan nur dan keseimbangan antara ruh, nafs, dan jasad. Pada diri nabi, hakikat dan syariat tidak saling meniadakan, melainkan saling menyempurnakan, sebab syariat adalah bentuk lahir dari hakikat yang hidup di dalamnya.
Kenabian adalah maqam penerimaan cahaya tanpa perantara, namun cahaya itu tidak berhenti pada diri nabi, melainkan mengalir kepada umat sesuai kadar kesiapan mereka. Sebab cahaya Ilahi satu, tetapi wadah manusia beragam. Maka nabi adalah cermin yang memantulkan Nur Tuhan tanpa mengubahnya, sementara umat mengambil pantulan itu sesuai kejernihan hati masing-masing. Inilah sebab perbedaan pemahaman manusia terhadap satu ajaran, bukan karena kebenaran terpecah, tetapi karena kesiapan hati tidak sama.
Para arif menyatakan bahwa Tuhan tidak menampakkan Diri-Nya secara langsung kepada manusia, karena ketakterhinggaan-Nya akan menghancurkan kesadaran makhluk. Maka kenabian adalah rahmat penurunan, agar cahaya yang Maha Tinggi dapat disentuh oleh yang terbatas. Dengan demikian, nabi bukan sekadar pembawa pesan, tetapi titik temu antara keabadian dan kefanaan, antara al-Ḥaqq dan Makhluk. Barang siapa memandang nabi hanya sebagai penyampai hukum, maka ia belum mengenal rahasia kenabian.
Pada diri nabi, kehendak pribadi telah luluh ke dalam kehendak Ilahi, sehingga geraknya adalah gerak yang dituntun, ucapannya adalah ucap yang dijaga, dan diamnya pun adalah pengajaran. Inilah makna ‘iṣmah menurut ahli tasawuf, bukan ketiadaan kemungkinan salah secara jasadi, tetapi terjaganya kesadaran dari dominasi nafs/jiwa, sehingga cahaya selalu mendahului kehendak diri. Maka nabi menjadi teladan hidup, bukan karena ia makhluk tanpa sifat manusia, tetapi karena ia manusia yang telah selesai dengan dirinya.
Kenabian juga berfungsi sebagai penetap timbangan, agar manusia tidak tersesat antara hakikat tanpa syariat dan syariat tanpa hakikat. Sebab hakikat tanpa bentuk melahirkan kebingungan, sementara bentuk tanpa hakikat melahirkan kekeringan. Pada diri nabi, keduanya menyatu, sehingga jalan menjadi jelas dan tujuan tidak hilang. Barang siapa mengikuti nabi hanya pada lahirnya, ia selamat dari kekacauan, dan barang siapa mengikutinya hingga batinnya, ia sampai pada penyaksian.
Maka jelaslah bahwa hakikat kenabian adalah penyempurnaan manusia agar layak menjadi jalan bagi manusia lain menuju Tuhan. Nabi bukan tujuan akhir, tetapi penunjuk arah yang paling lurus. Ia adalah rahmat yang berjalan di bumi, cahaya yang berbicara dengan bahasa manusia, dan kunci yang membuka pintu kembali kepada fitrah. Dan siapa yang mengenal nabi dengan makrifat, ia tidak akan berhenti pada sosok, tetapi sampai kepada Yang mengutus sosok itu. Dan Allah Maha Mengetahui rahasia penurunan cahaya-Nya.
Inilah pakaian keselamatan lahir dan bathin orang tua-tua dahulu
BalasHapusAlhamdulillah.. ejun..
BalasHapus