Tentang Penyimpangan dalam Sulūk dan Timbangan Kebenaran
FASAL KE-7 – DARUL FUTUHAT
jalan sulūk itu memang jalan cahaya, tapi di sepanjang jalan itu juga banyak jalur yang kelihatannya mirip, padahal ujungnya gelap secara halus. Penyimpangan dalam sulūk itu tidak selalu berupa maksiat yang kelihatan di luar. Justru seringnya muncul sebagai kesalahan batin yang tersembunyi di balik rasa, pengalaman, dan klaim-klaim halus. Karena itu para arif sangat menekankan pentingnya timbangan kebenaran, supaya seorang salik tidak tertipu oleh bayangan cahaya yang mirip hakikat, tapi sebenarnya menyesatkan.
Penyimpangan pertama adalah mendahulukan perasaan daripada adab. Banyak salik berhenti ketika mulai merasakan manisnya dzikir, tenangnya batin, atau luasnya perasaan hati. Lalu rasa itu dianggap sebagai tujuan. Padahal rasa hanyalah tanda awal dari sebuah pembukaan. Kalau rasa dijadikan pegangan utama dan adab mulai ditinggalkan, maka sulūk berubah jadi pencarian kenikmatan batin, bukan lagi pencarian Allah. Para arif mengatakan, setiap rasa yang menjauhkan seseorang dari adab adalah hijab, walaupun tampaknya bercahaya.
Penyimpangan kedua adalah mengklaim maqam sebelum waktunya. Ada orang yang sudah mengaku berada di maqam ini dan itu, padahal akhlaknya masih dikuasai nafs, lisannya masih kasar, dan hatinya mudah tersinggung. Klaim semacam ini bukan tanda sampai, tapi tanda tertipu. Maqam sejati tidak melahirkan pengakuan, tapi melahirkan kerendahan hati. Semakin tinggi seseorang, semakin kecil ia merasa di hadapan Allah dan makhluk. Karena itu klaim adalah hijab paling halus yang sering menipu orang-orang yang merasa sudah berilmu.
Penyimpangan ketiga adalah meninggalkan syariat dengan alasan hakikat. Ini kesalahan besar yang sejak dulu sudah diperingatkan para arif, termasuk Guru kita Tuanta Salamaka Syech Yusuf. Hakikat yang sejati tidak pernah bertentangan dengan syariat, karena keduanya berasal dari sumber yang sama. Siapa yang meninggalkan shalat, adab, atau kewajiban dengan alasan sudah sampai, berarti ia sudah jatuh dari jalan, walaupun ia melihat cahaya dan mendengar suara batin. Para arif menegaskan, syariat itu pagar bagi hakikat. Siapa yang merobohkan pagar, ia akan dimangsa oleh buasnya nafs.
Penyimpangan keempat adalah bergantung pada kasyf dan karamah. Kasyf dan karamah itu bukan tujuan, tapi ujian. Banyak salik tertipu ketika diberi kemampuan melihat yang gaib, mengetahui hal-hal tersembunyi, atau mengalami kejadian luar biasa. Kalau ia berhenti di sana, berarti ia sudah menukar Allah dengan pemberian-Nya. Kebenaran tidak diukur dari keajaiban, tapi dari istiqamah. Karamah paling besar adalah teguh dalam ketaatan dan adab.
Penyimpangan kelima adalah mengukur kebenaran hanya dengan akal atau hanya dengan pengalaman. Akal tanpa cahaya wahyu akan tersesat. Pengalaman tanpa timbangan syariat akan menipu. Karena itu, timbangan kebenaran dalam sulūk adalah kesesuaiannya dengan Al-Qur’an, sunnah, dan jalan para arif yang lurus. Setiap pengalaman yang tidak menambah ketundukan, adab, dan kasih sayang perlu dicurigai, bukan dirayakan.
Para arif juga mengingatkan bahaya guru palsu dan jalan tanpa sanad. Sulūk itu bukan jalan coba-coba. Ia butuh pembimbing yang sudah berjalan dan teruji. Tanpa bimbingan, seorang salik mudah tersesat oleh ilusi batin dan bisikan nafs yang menyamar sebagai ilham. Tapi guru sejati tidak mengikat murid pada dirinya. Ia justru mengarahkan murid kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalau ada guru yang menumbuhkan ketergantungan buta dan mematikan akal sehat, berarti ia bukan pembimbing, tapi penghalang.
Timbangan kebenaran dalam sulūk akhirnya terlihat dari akhlak. Kalau sulūk itu benar, ia melahirkan kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan kerendahan hati. Tapi kalau sulūk melahirkan kesombongan, mudah menghakimi, dan perpecahan, berarti ia sudah menyimpang dari tujuannya. Cahaya Ilahi tidak pernah melahirkan kegelapan sosial, karena hakikat cahaya itu sendiri adalah rahmat bagi seluruh alam.
Komentar
Posting Komentar